Bagaimana Bahasa Korea Jadi Bahasa Cool Baru di Musik Pop Global
Dari Trisha Paytas hingga rap Vietnam, mengapa artis global memilih bahasa Korea

Saat penyanyi Amerika Trisha Paytas merilis single baru, ia melakukan sesuatu yang tidak terduga: menyanyikan seluruh lagu dalam bahasa Korea. Lagu berjudul “사랑해” itu berdurasi 2 menit 4 detik dan menjadikan bahasa Korea sebagai inti, bukan sekadar hiasan.
Fenomena ini tidak berhenti di pop Amerika. Artis dari Jepang, Vietnam, dan Amerika mulai memilih bahasa Korea karena bahasa ini telah memiliki daya tarik budaya yang sulit dibuat-buat. Tarikan yang dulu membuat K-pop memakai bahasa Inggris kini berbalik arah.
Dari Bahasa Inggris ke Bahasa Korea
Selama puluhan tahun, frasa Inggris dalam lagu K-pop menjadi tanda ambisi global dan kesan modern. Dari H.O.T. hingga BIGBANG, bahasa Inggris dipakai untuk membangun citra kosmopolitan.
Sekarang, bagi artis non-Korea, bahasa Korea mengingatkan pada koreografi K-pop, kekuatan fandom, estetika idol, dan komunitas muda global. Memilih bahasa Korea bukan lagi soal terjemahan, melainkan sinyal brand.
Data Duolingo 2025 juga memperkuat tren ini. Bahasa Korea menjadi bahasa keenam yang paling banyak dipelajari di dunia, di atas Italia, Mandarin, dan Portugis.
Tiga Contoh dari Tiga Wilayah
Di Jepang, rapper Chiba Yuuki merilis “안녕하세요” dengan hook Korea sebagai pusat lagu. Produser Korea Lil Moshpit ikut terlibat, menunjukkan batas antara K-pop dan budaya musik tetangga makin terbuka.
Di Vietnam, SevenNight membawakan “괜찮아” di Rap Viet. Lagu itu menyebar di media sosial Asia Tenggara, lalu diperkuat oleh Karina aespa melalui challenge yang mencatat 6,85 juta penayangan di YouTube.
Di Amerika, “사랑해” dari Trisha Paytas diterima sebagai keputusan seorang entertainer mapan dengan jutaan pengikut, bukan sekadar eksperimen aneh.
Pandangan Industri
Seorang pelaku musik mengatakan kepada media Korea bahwa artis dengan akar dan sistem musik yang sangat berbeda kini memilih bahasa Korea sebagai “cheat code” untuk hit. Bahasa Korea menjadi keputusan komersial, kreatif, dan budaya sekaligus.
Ketika rapper Vietnam memakai hook Korea lalu idol K-pop memperluasnya lewat challenge, satu lagu bisa mendapat dua fandom sekaligus. Hook itu menjadi jembatan antarekosistem budaya.
Apa Selanjutnya
Posisi bahasa Korea di peringkat keenam Duolingo bukan sekadar tren sesaat. Generasi yang tumbuh dengan K-drama, fancam, dan K-pop kini menjadi penonton sekaligus kreator.
Bagi agensi K-pop, bahasa itu sendiri telah menjadi aset budaya premium. Saat Trisha Paytas menyanyikan “사랑해” dan internet merespons dengan pengenalan, bukan kebingungan, babak berikutnya untuk bahasa Korea sudah dimulai.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar