K-Pop Demon Hunters Raih Kemenangan Ganda Bersejarah di Oscar
Film animasi hit Netflix meraih Best Animated Feature dan Best Original Song di Academy Awards ke-98

Academy Awards ke-98 menghadirkan momen bersejarah bagi budaya pop Korea ketika K-Pop Demon Hunters membawa pulang dua penghargaan paling bergengsi pada malam Minggu — Best Animated Feature Film dan Best Original Song untuk lagu "Golden." Kemenangan ganda film fenomenal Netflix ini menandai pertama kalinya dalam sejarah sebuah lagu K-pop meraih Oscar, mengakhiri musim penghargaan yang mendefinisikan ulang batas animasi dan ekspor budaya Korea di panggung dunia.
Sutradara Maggie Kang dan Chris Appelhans bersama produser Michelle Wong menciptakan sejarah sebagai perempuan keturunan Asia pertama yang memenangkan kategori Best Animated Feature. Mereka juga menjadi individu keturunan Korea Selatan pertama yang menang di kategori ini, mengalahkan pesaing seperti Diane Never Dies, Dream of the Train, Viva Verdi!, dan Sinners.
Malam yang Mengubah Dolby Theatre Menjadi Konser K-Pop
Momen paling viral malam itu adalah penampilan live "Golden." Trio EJAE, Rei Ami, dan Audrey Nuna — yang mengisi suara grup K-pop fiktif Huntr/x dalam film — naik ke panggung Dolby Theatre dengan pertunjukan yang mengaburkan batas antara gala Hollywood dan konser K-pop. Penampilan dibuka dengan "Hunter's Mantra" yang penuh nuansa mistis, dengan para performer mengenakan hanbok tradisional Korea memperagakan adegan pembuka film bersama penyanyi pansori dan seniman tradisional namsadang.
Saat beat "Golden" menghentak, penonton dibagikan lightstick bercahaya — atribut khas konser K-pop di seluruh dunia. Pemandangan yang langsung viral adalah Leonardo DiCaprio dan Emma Stone, beserta deretan bintang A-list Hollywood, antusias mengayunkan lightstick mengikuti irama musik. Momen ini disiarkan langsung di OCN Korea Selatan, membuat penonton Korea tercengang melihat Dolby Theatre berubah menjadi arena K-pop.
Momen tersebut merangkum esensi K-Pop Demon Hunters — kemampuannya menjembatani seni tradisional Korea dengan budaya pop kontemporer yang beresonansi melampaui batas negara dan generasi.
Pidato Penuh Air Mata EJAE dan Lagu yang Mengukir Sejarah
Ketika EJAE, komposer sekaligus penyanyi berusia 24 tahun di balik "Golden," naik ke podium menerima penghargaan Best Original Song, emosi begitu terasa. Sambil menahan air mata, EJAE menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh makna hingga seluruh hadirin berdiri memberikan tepuk tangan meriah.
"Waktu kecil, orang-orang suka mengejek saya karena suka K-pop," ungkap EJAE kepada hadirin dengan suara bergetar. Ia juga berterima kasih kepada tunangannya, menambah lapisan emosional pada malam yang sudah tak terlupakan. Tim penulis lagu yang terdiri dari EJAE, Mark Sonnenblick, Kwak Jungkyu, Lee Yuhan, Nam Heedong, Seo Jeonghun, dan Teddy Park menjadi warga Korea Selatan pertama yang menang di kategori Best Original Song.
"Golden" sudah menciptakan sejarah jauh sebelum malam Oscar. Lagu ini debut di Billboard Hot 100 pada Juni 2025 dan menduduki posisi nomor satu selama 5 minggu non-konsekutif, menjadikannya lagu dari film animasi yang paling lama bertahan di puncak. Pada Februari 2026, lagu ini juga menjadi lagu K-pop pertama yang meraih Grammy.
Musim Penghargaan yang Belum Pernah Terjadi
Kemenangan ganda Oscar merupakan puncak dari perjalanan musim penghargaan yang luar biasa. K-Pop Demon Hunters sudah meraih Best Animated Film di Golden Globes, Critics' Choice Awards, dan PGA Awards, serta menyapu 10 Annie Awards. "Golden" juga menang di kategori Original Song di Golden Globes dan Critics' Choice Awards, membuat kemenangan Oscar terasa sebagai kelanjutan yang tak terelakkan.
Film ini berkisah tentang Rumi, Mira, dan Zoey — tiga bintang pop muda dalam grup Huntr/x yang menemukan bahwa mereka adalah keturunan pemburu iblis kuno. Diisi suara oleh Arden Cho, May Hong, dan Ji-young Yoo, ketiga karakter harus menyeimbangkan karier K-pop dengan pertempuran melawan ancaman supernatural di dunia visual yang memukau, terinspirasi dari mitologi Korea dan Seoul modern.
Perpaduan cerita rakyat Korea — mulai dari motif seni tradisional, busana hanbok, hingga referensi landmark bersejarah — dengan dunia K-pop yang penuh energi berhasil memikat penonton di seluruh dunia. Penggambaran Namsan Seoul Tower dalam film bahkan dilaporkan mendorong peningkatan wisata dari pengunjung internasional yang ingin melihat langsung lokasi-lokasi dalam animasi tersebut.
Dampak Budaya Melampaui Layar
Efek riak K-Pop Demon Hunters meluas jauh melampaui jumlah streaming dan piala. Museum Nasional Korea melaporkan bahwa pin karakter yang terinspirasi dari motif harimau-burung murai ikonik dalam film — diambil dari lukisan rakyat minhwa — telah terjual sekitar 90.000 unit, menjadi salah satu merchandise terlaris museum di bawah merek "Mutz."
Aktor Ahn Hyo-seop, pengisi suara karakter Jinwoo dalam film, menghadiri Academy Awards untuk pertama kalinya dalam karier satu dekadenya. Kehadiran aktor keturunan Korea-Kanada di karpet merah menambah dimensi baru pada perayaan ini, menghubungkan dunia hiburan live-action Korea dengan kesuksesan film animasi.
Upacara tahun ini didominasi oleh One Battle After Another arahan Paul Thomas Anderson yang meraih tujuh penghargaan termasuk Best Picture. Michael B. Jordan memenangkan Best Actor untuk Sinners — film yang memecahkan rekor dengan 16 nominasi — sementara Jessie Buckley membawa pulang Best Actress untuk Hamnet. Namun K-Pop Demon Hunters-lah yang menguasai percakapan budaya, membuktikan bahwa seni bercerita Korea telah kukuh sebagai kekuatan permanen dalam hiburan global.
Langkah Selanjutnya
Netflix telah mengumumkan sekuel K-Pop Demon Hunters dengan Maggie Kang dan Chris Appelhans kembali sebagai sutradara dan penulis naskah. Film lanjutan ini dikabarkan menargetkan rilis tahun 2029, memberi tim kreatif waktu yang cukup untuk membangun di atas fondasi fenomena budaya ini.
Bagi ekosistem K-culture secara luas, kemenangan ganda Oscar merepresentasikan perluasan signifikan pengaruh kreatif Korea. Jika Parasite karya Bong Joon-ho menerobos dinding live-action di Oscar tahun 2020, K-Pop Demon Hunters melakukan hal serupa untuk animasi — dan membawa musik K-pop bersamanya. Pemandangan bintang-bintang terbesar Hollywood mengayunkan lightstick mungkin lebih dari sekadar momen viral; itu bisa menjadi sinyal bahwa integrasi K-pop ke arus utama hiburan Barat telah mencapai titik tanpa jalan kembali.
Seperti kata EJAE dengan berlinang air mata di panggung Oscar, dunia telah berubah jauh dari masa ketika orang mengolok-olok pecinta K-pop. Kini, tampaknya bahkan Oscar pun tak kuasa menolak pesonanya.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar