Revolusi Drama Pendek Korea: Bisakah K-Entertainment Meraih Bagian dari Pasar Senilai 9,7 Miliar Dolar?
Dari investasi 86 juta dolar Vigloo hingga pipeline AI berbasis webtoon milik Kakao, studio Korea melancarkan serangan paling ambisius ke pasar micro-drama global

Pada tahun 2024, penonton Korea menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton episode drama berdurasi dua menit di ponsel mereka daripada menelusuri jadwal siaran televisi tradisional — dan angka di balik pergeseran ini sungguh mengejutkan. Pasar drama pendek Korea Selatan menghasilkan sekitar 490 juta dolar AS pada tahun 2024, menempatkan negara ini di peringkat keempat dunia dalam konsumsi micro-drama. Namun yang membuat momen ini benar-benar bersejarah bukan soal uang, melainkan siapa yang kini membuat kontennya.
Selama tiga tahun terakhir, Crazy Maple Studio dari Tiongkok dan para pesaingnya mendominasi format ini. ReelShort dan DramaBox — dua raksasa micro-drama — telah mengumpulkan pendapatan pembelian dalam aplikasi secara global masing-masing sebesar 490 juta dan 450 juta dolar AS hingga awal 2025. Pada kuartal pertama 2025 saja, kedua platform tersebut menghasilkan 130 juta dan 120 juta dolar AS, sebagai bagian dari pasar aplikasi drama pendek global yang mencapai sekitar 700 juta dolar AS dalam satu kuartal — hampir empat kali lipat dari angka Q1 2024. Korea sebagian besar hanya menjadi penonton. Kini, negara ini bertekad menjadi pesaing.
Dari Negeri Webtoon Menuju Kekuatan Micro-Drama
Masuknya Korea ke dalam drama pendek bukanlah kebetulan — ini bersifat struktural. Negara ini sudah memiliki ekosistem webtoon paling berkembang di dunia, dan webtoon sangat cocok dengan format video vertikal pendek. Kedua format dirancang untuk perangkat seluler, dikonsumsi dalam waktu singkat, dan direkayasa untuk momentum cliffhanger. Konvergensi ini hanya masalah waktu dan modal.
Modal itu datang secara tegas pada tahun 2024, ketika raksasa game Krafton menginvestasikan 86 juta dolar AS ke Vigloo, platform drama pendek yang dioperasikan oleh SpoonLabs. Sinyalnya jelas: uang teknologi dan hiburan Korea berkomitmen pada micro-drama dalam skala besar. Vigloo merespons dengan merilis sekitar 200 serial orisinal pada tahun 2025, membangun pustaka dalam delapan bahasa termasuk Inggris, Jepang, Spanyol, dan Arab. Sejak Desember 2024, pengguna aktif bulanan di AS meningkat lima kali lipat, dan 70% pendapatannya berasal dari pasar luar negeri.
Sementara itu, Kakao Entertainment mengambil pendekatan berbeda. Platform Helix Shorts miliknya menggunakan AI untuk mengonversi panel webtoon yang sudah ada langsung menjadi sekuens video pendek — memangkas biaya produksi dari 1.800 dolar AS per klip menjadi sekitar 55 dolar AS. Angka ini mengubah seluruh ekonomi format tersebut. Apa yang dulunya merupakan tantangan produksi premium berubah menjadi pipeline produksi yang dapat dijalankan studio Korea dengan kecepatan dan biaya yang tidak bisa ditandingi oleh pesaing penyiaran tradisional.
Persaingan Platform Semakin Ketat
Kesenjangan dalam grafik di atas adalah persis apa yang sedang dikejar oleh industri konten Korea. Namun infrastruktur berkembang cepat. Pada Januari 2025, jumlah platform drama pendek aktif di Korea telah tumbuh dari 21 menjadi 89 — peningkatan 324% dalam sekitar dua tahun. Tving, platform OTT dominan milik CJ ENM, meluncurkan lineup Tving Short Originals pertamanya pada Agustus 2025, menandakan bahwa platform arus utama tidak lagi rela menyerahkan format ini kepada startup. KT Studio Genie menyusul tak lama kemudian, dan judul-judul drama pendek perdananya langsung menduduki peringkat satu di DramaBox dan ReelShort — membuktikan bahwa konten produksi Korea dapat bersaing di platform Tiongkok.
Struktur biaya produksi juga mendukung ambisi Korea. Satu musim K-drama tradisional membutuhkan anggaran 10 hingga 30 miliar won dan waktu produksi 6 hingga 12 bulan. Satu musim drama pendek sebaliknya hanya membutuhkan 1 hingga 3 miliar won dan dapat diselesaikan dalam 4 hingga 8 minggu. Dengan tambahan alat produksi berbasis AI — Helix Shorts milik Kakao dilaporkan memangkas biaya per klip lebih dari 70% — struktur biaya mulai terlihat bukan seperti format konten, melainkan seperti produk perangkat lunak: dapat diskalakan, iteratif, dan dapat diterapkan secara global.
Siapa yang Menonton dan Apa yang Mereka Harapkan
Pergeseran penonton ini nyata dan terukur. Pada tahun 2023, 58,1% pengguna Korea melaporkan menonton drama pendek. Pada tahun 2024, angka tersebut naik menjadi 70,7%. Mereka bukan sekadar penonton pasif — mereka membayar. Model monetisasi dominan menggunakan pembelian koin virtual untuk membuka episode, dan pengguna membeli dengan tingkat yang menjadikan micro-drama sebagai salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat dalam pendapatan aplikasi seluler secara global. Basis pengguna micro-drama global melampaui 150 juta pengguna aktif bulanan pada akhir 2024.
Apa yang diinginkan audiens ini, studio Korea berada di posisi yang tepat untuk menyediakannya. Kosakata genre drama pendek — musuh menjadi kekasih, identitas tersembunyi, romansa mendadak — sangat cocok dengan trope yang sudah disempurnakan K-drama untuk audiens global. Sementara platform Tiongkok sering memproduksi konten yang dioptimalkan untuk pasar Amerika Utara atau Asia Tenggara, studio Korea membawa basis penggemar global yang sudah mapan, pipeline IP yang terbukti melalui webtoon, dan reputasi kualitas produksi yang sulit ditiru oleh pesaing Tiongkok yang lebih kecil.
Taruhannya: Pasar 9,7 Miliar Dolar di Titik Balik
Pasar micro-drama global dinilai 9,7 miliar dolar AS pada tahun 2024 dan diproyeksikan melampaui 11 miliar dolar AS pada tahun 2025. Korea saat ini menyumbang sekitar 3,24% dari pendapatan micro-drama global — angka yang tampak sederhana sampai Anda mempertimbangkan bahwa format ini hampir tidak ada di Korea tiga tahun lalu, dan bahwa infrastruktur OTT, IP webtoon, serta kemampuan produksi AI negara ini semuanya sedang berakselerasi secara bersamaan.
Pertanyaan yang lebih signifikan bukan apakah Korea dapat menumbuhkan pangsa pasarnya, melainkan apakah perusahaan Korea dapat membangun platform yang menangkap pendapatan, alih-alih sekadar memasok konten ke aplikasi milik Tiongkok. Ekspansi Vigloo di AS, strategi short originals Tving, dan pipeline AI Kakao mengisyaratkan jawabannya mungkin ya — tetapi jendela untuk membangun dominasi platform semakin menyempit. Platform Tiongkok dengan basis pendapatan ratusan juta dolar sudah beroperasi dalam skala besar dan mereka secara agresif mengakuisisi IP serta talenta produksi Korea.
Momen drama pendek Korea telah tiba. Apakah ini akan berubah menjadi kekuatan platform yang bertahan lama — atau menjadi babak baru di mana kreativitas Korea memperkaya ekosistem kompetitor — adalah pertanyaan penentu industri ini dalam dua tahun ke depan.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar