Park Joo-hee Nyaris Tak Bisa Bayar Kontrakan Saat Menolak 20 Tawaran Job Sehari
Penyanyi trot Korea ini berterus terang soal kesulitan finansial di puncak ketenaran — dan persahabatan yang membawanya kembali

Di puncak popularitasnya, penyanyi trot Korea Park Joo-hee menolak lebih dari 20 booking sehari. Lagu hits-nya "Jagi-ya" (자기야) menjadikannya salah satu performer paling dicari di Korea. Di permukaan, hidupnya tampak sempurna. Di balik layar, ia nyaris tak bisa membayar sewa bulanan.
Dalam penampilan terbarunya di program variety KBS Achim Madang – Ssangsang Noraebang (아침마당-쌍쌍 노래방), Park berbicara blak-blakan tentang jurang menyakitkan antara citra publik dan realita pribadinya — sebuah pengakuan yang beresonansi mendalam dengan para penggemar yang selama ini hanya melihat kemewahan tanpa pernah tahu perjuangannya.
Ketenaran yang Tak Membayar Tagihan
Park Joo-hee merilis "Jagi-ya" pada 2005, dan lagu itu langsung meledak di kancah musik trot Korea. Trot — genre yang berakar pada musik populer Korea awal abad ke-20 yang dipengaruhi Jepang — tengah mengalami kebangkitan di pertengahan 2000-an, dan "Jagi-ya" menunggangi gelombang itu hingga menjadi salah satu lagu ikonik era tersebut. Dengan ritme catchy dan lirik yang mudah diterima, lagu ini mengukuhkan Park sebagai nama yang dikenal di seluruh penjuru negeri.
Kesuksesan itu menghadirkan permintaan yang luar biasa. Park mengungkapkan bahwa pada masa tersibuknya, ia aktif menolak lebih dari 20 booking terjadwal dalam sehari — bukan karena ingin, melainkan karena mustahil menerima semuanya. Bagi pengamat luar mana pun, ini adalah gambaran karier yang sedang melejit.
Namun kenangan jujur Park melukiskan gambaran yang sangat berbeda. "Di atas panggung, segalanya gemerlap. Dalam kehidupan nyata, membayar sewa pun susah," katanya di program tersebut. Ia bahkan menambahkan bahwa honor penampilan yang didapatnya jarang masuk ke kantongnya sendiri: "Honor-nya pasti sudah ke mana-mana — ke banyak tempat berbeda," katanya dengan hati-hati, mengisyaratkan sebuah sistem di mana artis sering hanya melihat sedikit dari uang yang mereka hasilkan untuk orang lain.
Krisis Identitas — Dan Setahun Ia Berhenti Bernyanyi
Kesenjangan antara kehidupan publik dan privat akhirnya menjadi terlalu berat untuk ditanggung. Park menggambarkan sebuah periode gejolak batin yang dalam, bertanya pada dirinya sendiri: "Apakah penyanyi yang bersinar di atas panggung itu benar-benar saya? Atau orang yang nyaris tidak bisa mengumpulkan uang untuk sewa itu yang merupakan saya yang sebenarnya?" Perpecahan identitas semacam itu — antara siapa yang dilihat dunia dan siapa dirimu sesungguhnya — jarang dibicarakan secara terbuka oleh figur publik, yang membuat kejujuran Park semakin menyentuh.
Beban psikologis dari pertentangan itu mendorongnya untuk mengambil keputusan drastis: ia meninggalkan dunia musik sepenuhnya. Selama kurang lebih satu tahun, Park Joo-hee tidak tampil di panggung. Ia berhenti menerima telepon, menarik diri dari industri, dan mulai menghilang dari kancah yang telah membuatnya terkenal. Saat itu, banyak penggemar yang mengira ia sekadar beristirahat atau sibuk dengan urusan pribadi. Sedikit yang tahu betapa dekatnya ia dengan keputusan untuk pergi selamanya.
Persahabatan yang Mengubah Segalanya
Wanita itu adalah Hyunsook (현숙), salah satu penyanyi trot dan folk veteran paling dicintai di Korea, yang kini berusia pertengahan 60-an. Hubungan mereka terjalin jauh sebelum Park Joo-hee menjadi artis profesional. Hyunsook melihat sesuatu dalam diri penyanyi yang lebih muda itu jauh sebelum ketenaran tiba, dan ia menjadikannya tugas pribadinya untuk membina bakat tersebut.
Sebelum Park resmi debut, Hyunsook sering mengajaknya ke pertunjukan live, memberikannya pendidikan langsung tentang apa artinya menjadi penyanyi kerja keras di Korea. Ia mentraktir Park makan, membantu navigasi kompleksitas dunia penyiaran, dan mengenalkannya pada kenalan industri — bukan sebagai transaksi bisnis, melainkan karena kasih sayang yang tulus. "Saya tidak punya manajer — biar saya yang temani kamu," kata Hyunsook, mengantar Park melewati kantor-kantor stasiun TV dan venue acara, selalu memperkenalkannya dengan hangat sebagai "내 동생" — "adik perempuanku."
Park ingat memandang Hyunsook dan berpikir, "Jika aku bisa menjadi sepersekian dari apa yang dia capai, aku akan merasa sangat beruntung." Kekaguman itu tumbuh menjadi ikatan yang terbukti tak tergoyahkan bahkan di titik terendah Park. Ketika ia sudah siap menghilang dari industri selamanya, Hyunsook-lah yang menolak membiarkannya pergi — yang mengingatkannya mengapa ia mulai bernyanyi sejak awal, dan yang tetap dekat saat dibutuhkan.
"Berkat Hyunsook yang selalu memikirkanku di masa itu, aku bisa mengumpulkan keberanian untuk bernyanyi lagi," kata Park dalam program tersebut.
Ikatan yang Terus Menguat
Beberapa dekade berlalu, persahabatan mereka tetap menjadi salah satu hubungan yang paling tulus dan hangat di dunia hiburan Korea. Pada hari penampilan mereka di Achim Madang, keduanya hadir mengenakan baju kuning senada — detail kecil yang bercerita banyak tentang kedekatan mereka. Bagi Hyunsook, perasaannya sama.
"Setiap kali Park Joo-hee muncul, aku merasa sangat tenang," kata penyanyi veteran itu. "Dia adalah teman yang ada bersamaku di saat susah maupun bahagia." Keduanya membuat keputusan bersama soal pilihan lagu, pergi ke salon rambut bersama, dan terus saling mendukung karier masing-masing dengan cara yang tenang dan praktis yang tak pernah menjadi berita besar.
Pada Februari lalu, keduanya tampil bersama di Perfect Life (퍼펙트 라이프) di TV Chosun, di mana kamera merekam mereka berjalan di taman dan mengunjungi jjimjilbang — sauna tradisional Korea — bersama. Pemandangan dua perempuan yang telah melewati seluruh siklus kehidupan industri hiburan, berdampingan, mengundang respons hangat dari para penonton.
Apa yang Diceritakan Kisah Ini Tentang Industri
Pengungkapan Park Joo-hee penting melampaui kisah pribadi. Ini menyoroti masalah struktural yang sudah lama ada dalam industri hiburan Korea — dan industri hiburan global — di mana imbalan finansial dari ketenaran tidak selalu sampai ke tangan orang yang menghasilkannya.
Namun pada akhirnya, kisahnya bukan tentang menjadi korban, melainkan tentang ketangguhan dan persaudaraan perempuan. Ia selamat dari jurang antara siapa yang ia tampakkan dan siapa dirinya sesungguhnya. Ia menemukan jalan kembali ke musik. Dan ia menghabiskan tahun-tahun sejak itu dengan membangun sebuah persahabatan yang, dalam segala hal, jauh lebih bermakna daripada posisi di chart atau honor booking mana pun.
Dalam industri yang sering mengistimewakan usia muda, hal baru, dan visibilitas tanpa henti, ada sesuatu yang secara diam-diam revolusioner tentang dua perempuan yang hanya memilih untuk saling menjaga — dan terus hadir, bersama, dengan baju kuning senada di acara televisi pagi hari.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar