Alasan Sesungguhnya Lee Guk-joo Meninggalkan Korea untuk Pindah ke Tokyo
Setahun menjalani kehidupan di Tokyo, komedian ini membuka diri tentang kelelahan, penyembuhan, dan alasannya tak akan pernah melepaskan apartemen Jepangnya

Tepat satu tahun berlalu sejak Lee Guk-joo membereskan barang-barangnya dan pindah ke apartemen studio sederhana berukuran 9 pyeong (sekitar 30 meter persegi) di Tokyo, meninggalkan hampir dua dekade karier di dunia hiburan Korea. Pada 2 April 2026, ia menandai hari jadi itu di channel YouTube-nya dengan mukbang di hari hujan dan sesi tanya jawab terbuka — dan apa yang ia katakan membuat para penggemar terharu sekaligus terinspirasi.
"Memang benar saya pergi karena keadaan sedang sulit," akuinya tanpa ragu. "Tapi sekarang, di 2026, saya sangat bahagia." Kontras antara dua kalimat itu merangkum segalanya tentang babak Tokyo Lee Guk-joo: sebuah kisah tentang kelelahan, jeda yang sunyi, dan kehidupan yang dibangun kembali satu kunjungan minimarket demi satu kunjungan.
Mengapa Ia Pergi: 19 Tahun, Satu Titik Jenuh yang Sunyi
Lee Guk-joo memulai karier sebagai komedian pada 2007 dan menghabiskan hampir dua dekade membangun namanya di dunia hiburan Korea — melalui program variety show, talk show, dan komedi sketsa. Saat memasuki awal usia empat puluhan, ia telah meraih tingkat pengakuan yang hanya bisa diimpikan oleh kebanyakan seniman. Namun ada sesuatu yang terasa tidak beres.
"Saya merasa hidup seperti hamster yang berlari di atas roda," jelasnya dalam video sebelumnya. "Tidak ada semangat, tidak ada tantangan baru." Tekanan untuk selalu menampilkan sesuatu yang baru perlahan mengikis dirinya. "Saya merasa tercekik," katanya dalam percakapan lain. "Saya harus keluar dari situ."
Ia tidak menggambarkan kepergiannya sebagai pelarian dramatis. Lebih kepada keputusan sunyi yang diambil di tengah karier yang tidak pernah benar-benar berhenti. Pada April 2025, ia menyewa apartemen studio 9 pyeong di Tokyo — bukan suite mewah, bukan sewa liburan sementara, melainkan apartemen sewa bulanan yang mengharuskannya menyederhanakan hidupnya secara signifikan. Ia bahkan menjual mobil kampingnya untuk mengelola keuangan.
"Saya tidak kaya raya, tapi juga tidak kekurangan," katanya. "Saya ikat pinggang dan hidup hemat di sini." Kejujuran ini mendarat tepat di hati para penggemarnya. Ini bukan selebriti yang pamer gaya hidup di luar negeri — ini adalah seseorang yang memilih perjuangan daripada stagnansi.
Menemukan Penyembuhan dalam Hal-Hal Kecil
Yang mengejutkan bahkan Lee Guk-joo sendiri adalah dari mana penyembuhan itu datang. Bukan dari petualangan besar atau terobosan profesional, melainkan dari momen-momen paling biasa dalam kehidupan sehari-hari di Tokyo.
"Pergi ke minimarket, belanja, naik kereta bawah tanah," katanya dengan senyum dalam video ulang tahunnya. "Hal-hal kecil sehari-hari ini terasa menyembuhkan bagi saya." Bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun tampil di depan kamera dan penonton, anonimitas sebagai orang asing di kota yang sibuk justru menghadirkan kedamaian yang tidak terduga.
Ia juga berbicara tentang bagaimana pengalaman ini mengubahnya secara emosional. "Rasanya saya sekarang bisa menerima lebih banyak orang dalam hidup saya dari sebelumnya," renungnya. "Hati saya terbuka dengan cara yang tidak saya duga." Hidup sendiri di kota yang asing, menelusuri bahasa baru, dan memulai dari awal di usia empat puluhan justru membuatnya lebih, bukan kurang, terhubung dengan dunia di sekitarnya.
Kehidupan Tokyo-nya sengaja dibuat tidak glamor. Ia memasak sendiri, belanja di pasar lokal, dan perlahan mempelajari bahasa Jepang. "Saya benar-benar ingin belajar bahasanya," katanya. "Saya terus merasakan dorongan ke sana." Aspirasi itu bukan sekadar praktis — ini mencerminkan keinginan yang lebih dalam untuk benar-benar menjadi bagian dari tempat yang ia pilih, bukan sekadar singgah.
Setahun Kemudian: 'Saya Tidak Akan Pergi'
Pertanyaan yang telah ditumpuk para penggemar sepanjang tahun akhirnya mendapat jawaban jelas dalam sesi tanya jawab hari jadi. Apakah apartemen Tokyo-nya akan dipertahankan?
"Bahkan jika saya pindah ke apartemen berbeda di sini, saya tidak akan melepaskan rumah Tokyo saya," kata Lee Guk-joo dengan tegas. "Bahkan jika harus mengurangi hal lain, saya akan mempertahankan kehidupan saya di Jepang." Tidak ada keraguan dalam nadanya. Ini bukan lagi eksperimen atau cuti panjang — ini adalah pilihan gaya hidup yang tulus yang ia niatkan untuk pertahankan jangka panjang.
Ia tidak meninggalkan Korea sepenuhnya. Ia masih mempertahankan rumahnya di Korea dan berpindah antara kedua negara sesuai jadwal. Namun Jepang telah menjadi jangkarnya — tempat ia kembali untuk ketenangan ketika ritme hiburan Korea kembali terasa melelahkan.
Keputusan ini tidak lepas dari komplikasi. Ketika ia pertama kali menyewa apartemen pada April 2025, media Korea memberitakan soal imigrasi dan emigrasi permanen. Ia segera meluruskan bahwa ia tidak pergi secara permanen, menyebutnya sebagai "gaya hidup dua rumah." Setahun kemudian, deskripsi itu masih yang paling akurat — namun keseimbangannya jelas telah condong ke Tokyo.
Membangun Audiens Baru di Jepang
Satu perkembangan tak terduga dari kepindahannya ke Tokyo adalah pertumbuhan penonton Jepangnya. Lee Guk-joo, yang membangun basis penggemar Korea melalui televisi dan konten online, menemukan bahwa video YouTube yang mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya di Jepang justru menarik penonton dari dalam Jepang sendiri.
"Saya tahu ada cukup banyak orang yang menonton konten saya dari Jepang," katanya. Ia mengisyaratkan bahwa mencapai 500.000 subscriber bisa menjadi pemicu untuk sesuatu yang istimewa — pertemuan penggemar gaya gerilya di suatu tempat di Jepang. Idenya masih di tahap awal, namun mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara ia memikirkan karier dan audiensnya.
Di Korea, ia adalah wajah yang familiar — dicintai, namun sudah dikenal. Di Jepang, ia hampir memulai dari nol, yang secara paradoks terasa membebaskan. "Saya ingin datang ke sini dan bekerja keras seperti saat baru memulai," katanya. "Bahkan jika gagal, saya ingin itu adalah kegagalan yang memberi saya pengalaman baik — bukan yang menghancurkan hidup saya."
Mentalitas pendatang baru itu — hadir setiap hari di tempat yang tidak familiar dan membiarkan karya bicara sendiri — adalah sesuatu yang tampaknya ia temukan kembali secara tulus di Tokyo. Apakah itu membuka peluang profesional di Jepang atau sekadar mempertahankan kebahagiaan pribadi yang ia temukan di sana, niatnya sudah jelas.
Apa yang Ada ke Depan
Lee Guk-joo tidak membuat rencana kaku tentang ke mana babak ini mengarah. Ia sendiri mengakui bahwa ia bukan tipe yang merencanakan segalanya. Namun beberapa hal sudah pasti: apartemen Tokyo bertahan, koneksi Korea tetap ada, dan channel YouTube — kini menjadi jendela menuju kehidupan ganda yang tidak biasa — akan terus berjalan.
Belajar bahasa terus berlangsung di latar belakang, proses yang lambat dan merendahkan hati yang ia bicarakan dengan campuran tekad dan ejekan diri sendiri yang sama. Kemungkinan acara penggemar Jepang mengambang sebagai tujuan daripada jaminan. Dan ritme sederhana kehidupan Tokyo — jalan-jalan di hari hujan, makan sendiri di restoran, pagi-pagi yang sunyi di apartemen 9 pyeong — tetap menjadi, menurut perkataannya sendiri, bagian terbaik dari setiap minggu.
"Kenyataan bahwa saya berhasil bertahan dengan baik," katanya, menoleh ke belakang pada tahun yang telah berlalu. Pernyataan sederhana, hampir tidak terucap. Namun bagi seseorang yang pergi karena sudah kehabisan alasan untuk tetap tinggal, itu berarti segalanya.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar